Naskah Buat Pemilwa
7 April 2009
Pagi itu udara begitu dingin, membuatku yang biasa tidur sampai waktu dhuha, terpaksa terbangun pagi-pagi sekali, mendahului sunrise mungkin. Karena kebingungan tidak ada aktifitas, akhirnya kuhidupkan radio ponselku, berita pagi itu tentang prediksi kemenangan Barrack Husein Obama di pilpres Amerika, berita yang cukup menarik. Jam 7 Pagi aku sudah ada di kantor, aku lupa kalau itu hari senin, jadi kantor masih sepi, akhirnya aku nyalakan TV, beritanya tentang prediksi kemenangan Barrack Husein Obama di pilpres Amerika. Tak lama kemudian, koran pagi datang, sambil kusedu teh hangat yang sudah disiapkan oleh pramusaji, kubuka koran itu, beritanya masih soal tentang prediksi kemenangan Barrack Husein Obama di pilpres Amerika.
Sesaat kemudian, kantor sudah ramai, aku terlarut dalam kesibukanku, tiba-tiba sms singgah di nomorku. Oh, ternyata kabar dari kawan di Jogja, katanya Pemilwa UIN Sunan kalijaga akan segera digelar, pasta politik akbar bagi mahasiswa itu sudah di depan mata. Takterasa memori kembali ke masa lampau, masa-masa heroik, masa-masa penuh dengan idealisme. Ya, itulah masa di mana aku pernah menjadi bagian dari pesta demokrasi itu, heh, pesta demokrasi? Seingatku, pesta itu baru setingkat pesta demokratisasi paradigma pemikiran politik mahasiswa. Mengapa aku katakan demikian, setidaknya aku sekarang sudah tidak menjadi mahasiswa lagi, kali ini aku harus lebih realistis menilai hal tersebut dari sudut pandang yang lebih rasional, tidak sekedar ideal.
Sedikit banyak, partai yang mendudukungku ketika itu memberikan nuansa yang berbeda dalam memperkaya perbendaharaan aliran partai politik mahasiswa. Sebelum ada partai itu, partai embun pagi, partai partai-hanya merupakan representasi dari organ-organ ekstrakulikuler kampus. Selama aktif di gerakan politik kampus itulah aku sadar, betapa sangat sulit untuk mempertemukan gagasan dalam sebuah struktur politik. Setiap kelompok dalam gerakan mahasiswa, memiliki pandangan yang berbeda, bahkan saling berlawanan dalam memandang sebuah permasalahan polotik. Tentu saja permasalahan politik tersebut dilahirkan oleh kebijakan politik pula, yang mana kebijakan politik lahir dari kader partai politik juga, dan berputar-putar di situ jualah sampai kapanpun juga.
Partai embun pagi, secara historis, lahir di tengah-tengah zaman itu, dengan begitu moderat lianya tampil bak oase di tengah padang tandus. Namun budaya bangsa ini seolah tidak bisa lagi menerima sebuah gagasan baru yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Budaya itu berbunyi, “benarkanlah kebiasaan dan jangan biasakan yang benar”. Ternyata budaya tersebut begitu kental, sehingga tawaran-tawaran dari partai Embun Pagi senantiasa mental di pentasakonstelasi politik kampus. Dan tahun ini pesta yang acap kali dihiasi konflik itu kembali digelar, alhamdulillah aku masih diberi kabar, walaupun sudah di seberang sini.
Setahuku, UIN sunan Kalijaga sudah bukan IAIN lagi, banyak yang sudah berubah, tidak hanya fisik, tetapi juga pola piki para mahasiswanya. Sedikit banyak mahasiswa UIN sekarang cenderung ke arah gaya hidup yang moderen, hedonistik mungkin lebih tapatnya. Sedangkan secara ideal, tujuan diadakannya Pemilwa adalah demi menampung berbagai aspirasi dari mahaasiswa, yang hanya mampu terepresentasi dari partai-partai politik yang menjadi peserta Pemilwa. Nah, jika partai-partai yang ada hanya menggunakan logika-logika klasik ala UIN, aku kuatir hal itu tidak akan bertahan lama. Dibutuhkan seorang pimimpim, atau sebuah partai yang berani menciptakan perubahan paradigma yang selama ini sudah ada. Yaitu paradigma patronistik terhadap kepentingann nasional, sehingga action yang diciptakanpun munggunakan logika kepentingan nasional pula, walaupun itu tidak terlalu kontekstual dengan kebutuhan mahasiswa.
Menurutku, logika nasional itu perlu, logika global justru bila perlu, tapi action kita harus beroreintasi tarhadap kepentingan lokal, dalam hal ini kepentingan mahasiswa. Soekarno pernah berkata, ”tidak mudah menjadi mahasiswa”, mungkin ini yang dimaksud, tidak mudah untuk menjadi agen of change, betapa tidak, untuk merubah logika saja kita enggan, apalagi untuk membuat perubahan dalam kondisi yang riil sedang kita hadapi. Aku hanya bisa berdoa semoga apa yang aku tulis ini tidak sepenuhnya benar, semoga semuanya sudah berubah sekarang.
Email singkat ini sengaja aku buat untuk menyapa teman-teman yang masih eksis dan konsisten di sana. Terus terang saja aku tidak se-hebat dan se-istiqomah kalian, berjuang mengaktualisasikan idealisme di tengah-tengah gelora darah muda. Ingin rasanya kembali ke masa itu, bersama-sama kalian mengangkat tangan dan teriakkan “TIDAK” terhadap hal yang tidak kita anggap benar. Akhirnya, buat seluruh mahasiswa UIN dan aktifis Partai Politik yang sedang sibuk di sana, “selamat merayakan pesta”. Semoga apa yang kalian lakukan selama menjadi mahasiswa akan dicatat sebagai deposito sosial yang akan kalian tuai setelah lulus kelak. Perjuangkanlah apa yang kalian yakini, selama kalian masih punya keyakinan, tetapi jangan terlalu kaku dan introfet selagi masih menjadi mahasiswa, karena itu hanya akan menjadi preseden buruk yang sama sekali tidak konstruktif bagi masa depan generasi muda bangsa kita.
Presiden Partai Embun Pagi periode 2004 – 2006
Sekarang bekerja pada kantor instansi pemerintah pusat yang berada di daerah Lampung.