DEMOS-KRATOS

20 April 2009

kampanyePesan iini akan tiba padamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku sedang menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan untuk menyongsog PEMILWA 2009 (yang sebenarnya 2008). Kamu selalu tergila-gila pada obsesi. Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terncana.

Pada suatu hari yang sebenarnya itu sudah diaendakan dan direncanakan, dan harusnya tidak usah ada diagendakan, itu sdah menjadi hal yang tak dapat diingkari lagi, layaknya ulang tahun, perayaan tahun baru. Ya itu lah system, dimana kita harus meakukan sesuatu, akan tetapi disisi lain kita terbentur dengan system.

Tidak selamanya system itu jelek, dan system itu baik. Tapi aehnya, kenapa yang kita rasakan itu kadang system menjadi idak baik, karena hanya menjadi batsan-batasan delam segala hal. Pa lagi kalau sudah masuk pada system birokrasi. Ampun….aku ingin jangan sampi aku bertemu dengan apa yang namanya birokrasi, mending sakit gigi.

Kembali pada suatu hal yang harus dilakukan, namun tidak dilakukan. Adalah suatu kekuasaan yang selalu menjadi rebutan. Apasih manisnya pada saat menjadi penguasa? Yang pasti berkuasa, berkuasa mengatur seluruh hal, diatur dengan alat kekuasaanya itu dengan sesuka hati dan sesuka kelompoknya.

Demokrasi, apakah hal seperi tadi demokrasi? Sebenarya aku juga belum benar-benar paham bagaimana sebarnya demokrasi itu yang secara benar-benar. Tapi ang pasti yang namanya demokrasi itu ya makan bareng, tidur bareng, sedih bareng, seneng bareng, ada yang tidak bisa makan-ya dibagi, ga bisa tidur-ya dibagi kasurnya. Lho kok mala enak-enakan sendiri, sudah dipercaya malah seenak wudelnya sendiri. Ada yang ga bisa makan, malah tutup mata dan makan sendiri, ada yang ga bisa tidur, eh malah menutup telinga dan tidur sendiri. Menutup mata, telinga, bisa, tapi kalau menutup hati siapa yang bisa? Itulah sebabnya, kita perlu bicara dari hati ke hati. Jangan Cuma lewt mulut-kemulut, mata ke mata. Karna mata dan mulut dapat ditutupi.

Lebih dewasa lagi, sudah tiga kali digelar. Itulah PEMILWA, apa yang alah dari system itu? Ga ada yang salah. Kalau saja kita menyikapi secara dewasa. Paling tidak, pemilwa itu sebagai pembelajaran politik kampus saja, kenapa ujung-jungnya kok tetep kekuasaan? Padahal setelah berkuasa apa sih yang kita dapat? Coba kita berfikfir lebih dewasa dan sadar, kita kan Cuma belajar, jadi mari kita lakukan hal-hal yang sesuai dengan apa peraturanya, toh peraturan kan juga kita yang buat.

Rahasia kecil kita berdua: aku tahu kau tahu aku ada.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.